Pandemi virus Corona (Covid 19). Foto: Pixabay

Sebuah studi tentang Virus Corona mengungkap reaksi yang ditimbulkan terkait cuaca panas terhadap virus tersebut. Studi awal terhadap Virus Corona jenis umum yang menyebabkan flu di Inggris menunjukkan bahwa virus tersebut berpola musiman. Puncaknya virus tersebut menyebar selama musim dingin dan menghilang di musim semi.

Hal yang menarik yaitu sejumlah kecil virus corona yang ditransmisikan pada musim panas. Di Inggris sendiri di beberapa daerah cuaca hangat akan membawa akibat baik untuk melakukan Lokcdown dan memudahkan pihak berwenang yang berusaha mengendalikan kerumunan massa.

Melansir Theguardian, para ilmuwan percaya bahwa cuaca hangat bisa membawa perubahan pada penyebaran virus. Pasalnya, epidemi flu cenderung mereda saat musim dingin berakhir. Namun pertanyaan yang masih belum dapat terjawab, apakah sinar matahari memengaruhi perilaku penyebaran Virus Corona? Perubahan tersebut yang kini tengah diamati dengan cermat oleh para ilmuan ahli epidemiologi

Dalam studi awal para peniliti menganalisis sampel yang dikumpulkan beberapa tahun lalu. Mereka menemukan tingkat infeksi Virus yang tinggi terjadi pada bulan Februari. Sementara itu pada musim panas infeksi tersebut sangat rendah. Studi lain juga menunjukkan bahwa Virus Corona bersifat musiman dalam iklim sedang.

Peneliti Rob Aldridge, meski tidak menyebut secara jelas mengungkapkan bahwa tingkat yang lebih rendah dari penularan virus Corona di musim panas, tetapi ini mungkin berbalik di musim dingin jika masih ada populasi yang rentan.

Menurutnya, virus yang tengah mewabah tersebut merupakan virus baru. Dia mengaku tidak mengetahui apakah pola musiman pada virus tersebut akan bertahan selama musim panas, mengingat tingkat kerentanan yang tinggi dalam suatu populasi.

Para ilmuwan lain juga memperingatkan bahwa virus Covid-19 adalah agen infeksi yang sama sekali baru, sehingga tidak ada peluang bagi populasi untuk membangun kekebalan. Akibatnya, kemungkinan virus itu akan terus menyebar meskipun memasuki musim panas.

Ahli virus Michael Skinner dari Imperial College London mengatakan variasi musiman dalam perilaku virus memiliki pengaruh kecil jika dibandingkan dengan efek social distancing untuk memutus rantai penyebaran virus.

Kedatangan musim semi di Eropa tidak hanya mempengaruhi perilaku virus, namun juga menghasilkan perubahan dalam sistem kekebalan tubuh manusia.

Sementara itu ahli imunologi Natalie Riddell di Surrey University mengatakan, sistem kekebalan tubuh menampilkan ritme harian, sementara yang kurang diketahui adalah bagaimana system tersebut bervariasi dari musim ke musim.

#