Ilustrasi lockdown akibat virus Corona. Foto: Pixabay

Pandemi virus Corona yang menimpa mayoritas negara-negara di dunia ternyata memicu kenaikan angka perceraian. Di negara Cina misalnya sejak 1 Maret higga April 2020 sejumlah warga mendaftarkan gugatan cerai.

Dilansir dari beberapa sumber, seorang pejabat di kantor pendaftaran pernikahan di Distrik Beilin, Xi’an mengatakan bahwa faktor penyebab maraknya gugatan itu karena munculnya ketegangan antarpasangan yang stres karena tak punya uang.

Selain itu, karena tutupnya kantor pendaftaran pernikahan tutup selama sebulan saat pandemi virus Corona sehingga mereka menunda permintaan gugatan cerai.

“Banyak pasangan yang terkurung di rumah selama lebih dari sebulan. Ini menyebabkan konflik dan berujung pada perceraian,” kata salah seorang pejabat saat diwawancarai Global Times.

Sementara itu pejabat lain dari kantor pendaftaran pernikahan di distrik Yanta, Xi’an mengatakan, konflik di dalam rumah tangga mengakibatkan pasangan suami-istri memilih bercerai.

“Kami menerima beberapa gugatan perceraian dan mereka kemudian menyesalinya. Karena itulah saya menyarankan untuk pasangan lebih serius dan bijaksana terhadap pernikahan mereka, agar terhindar dari penyesalan,” kata Han.

Sementara itu banyaknya kasus perceraian membuat otoritas di Fuzhou menetapkan batas 10 pasangan per hari bagi mereka yang ingin mendaftarkan perceraian.

Bahkan para pakar juga telah lama mendiskusikan terkait persoalan perceraian yang akan muncul karena keluarga terlalu lama bersama menghabiskan waktu.

Sementara itu dari laman Radii China, sejak pemerintah membuka kantor pengadilan, 25 Februari 2020, antrian berkas perceraian sudah menumpuk. Bahkan hingga April 2020 berkas perjanjian resmi perceraian sudah terisi.

Sementara itu kondisi berbeda terjadi di Dubai, Uni Emirat Arab. Kota Dubai memberlakukan lockdown sejak pekan lalu dan meniadakan pernikahan dan perceraian. Hal itu agar menghindari berkumpulnya massa. Bahkan pengadilan menolak pengajuan cerai.

Menurut Departemen Kehakiman Dubai, keputusan itu bagian dari langkah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Khaled Al Hawsni, hakim pengadilan keluarga, dalam laporan AFP, Rabu (8/4/2020), mengatakan pasangan yang telah menyelesaikan administrasi pernikahan tidak boleh menggelar pesta, meskipun hanya dihadiri keluarga.

Selama lockdown, warga harus mendapat izin dari otoritas setempat untuk meninggalkan rumah, kecuali mereka yang bekerja di sektor vital. Bahkan, seorang pria harus mendapat izin dari kepolisian jika ingin menemui istri keduanya.

#