Solidaritas melawan virus Corona. Foto: Pixabay

Virus Corona (Covid 19) yang menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia ternyata juga membawa dampak positif. Makna solidaritas bagi manusia modern yang dinilai mulai luntur akibat gempuran perkembangan teknologi, kini beranjak subur.

Seperti yang terjadi di Timur Tengah baru-baru ini. Mereka tergerak untuk membantu masyarakat yang terdampak wabah Covid-19. Mereka yang tergerak mulai dari perancang busana hingga pengusaha membantu pasokan produksi perlengkapan medis dan alat pelindung diri untuk masyarakat yang membutuhkan.

Perancang busana asal Mesir, Mohanad Kojak, bahkan menyumbangkan 100 persen dari keuntungan penjualan busananya ke rumah sakit Abassia Fever guna keperluan peralatan medis.

“Pandemi global saat ini membuat kami di Kojak menyadari kewajiban memberi sumbangsih untuk bangsa dan kemanusiaan,” ucapnya dalam unggahan di Instagram.

Sumbangan itu akan diberikan kepada mereka yang membutuhkan bantuan di antaranya tim medis yang berada di garda terdepan melawan Covid-19.

Ada pula Lamia Rady, yang menjahit masker untuk tim medis. Dalam sebuah wawancara, Lamia mengatakan dirinya membantu masyarakat dengan cara apa pun sebisanya.

Selain di Mesir, gerakan solidaritas juga digalang di Lebanon. Gerakan Baytna Baytak (Rumah Kami, Rumahmu) menyediakan tempat istirahat bagi tenaga medis.

Sementara itu seorang produsen mobil listrik EvElectra, Jihad Muhammad, mendanai pabrik pembuatan masker dengan desain syal keffiyeh Palestina. Dia juga merupakan salah seorang donator kemanisaan Palestina.

Tak hanya itu, gerakan solidaritas juga muncul di kalangan cendekiawan muslim kawasan Arab menggalang gerakan Solidaritas Kemanusiaan Melawan Pandemi Coronavirus. Deklarasi Gerakan itu juga didukung oleh sejumlah tokoh dari negara-negara sekitar.

Dilansir ipnews, dalam deklarasi tersebut, semua orang diserukan untuk mengambil bagian dalam upaya menggalang kemanusiaan. Menurut mereka, agama wajib mengatasi pandemi mematikan yang telah memengaruhi umat manusia, cara hidup, ekonomi, dan bahkan mayoritas sistem kehidupan. Bahkan hal itu juga menimpa kaum miskin sebagai yang mengalami penderitaan tambahan berupa mata pencaharian yang terbatas.

Dalam deklarasi itu diserukan pula menghidupkan kembali tanggung jawab etis dan kemanusiaan terhadap orang lain berupa konsep dan praktik Zakat. Mereka menyerukan konsep “Universalisme Zakat”.

Para cendekiawan muslim itu juga menyerukan untuk mempercepat pembayaran Zakat selama satu atau dua tahun kepada orang miskin pada awal bulan suci Ramadhan. Menurut, jumlah yang dikumpulkan dalam situasi pandemi ini sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.

Perlunya penyaluran zakat lebih awal itu karena, sejumlah kebijakan yang diterapkan termasuk pembatasan wilayah dan karantina yang mengganggu mata pencaharian banyak orang. Praktik tersebut juga dinilai dapat menyelamatkan iman, hidup dan martabat orang yang membutuhkan.

#