Ilustrasi perokok. Foto Pixabay

Sebuah penelitian terbaru menyatakan bahwa perokok sulit untuk terinfeksi virus corona (Covid 19). Hal itu disebabkan nikotin mungkin mencegah orang terjangkit Covid-19. Tetapi, racun lain dalam rokok berpotensi memperparah infeksi virus.

Studi tersebut dilakukan para peneliti di Prancis seperti dilaporkan The Guardian. Tak hanya itu, para ilmuwan tersebut bahkan memberikan nicotine patch atau plester nikotin pada pasien Covid-19 dan dokter yang merawat.

Plester nikotin tersebut biasa digunakan dalam terapi untuk seseorang berhenti merokok. Saat ini, para peneliti tersebut sedang menunggu izin dari otoritas kesehatan Prancis untuk menggelar eksperimen tersebut.

Namun lebih jauh dari itu, para peneliti menekankan, merokok tetap berbahaya dan sangat tidak dianjurkan sebagai cara untuk mencegah penularan virus corona.

Menurut mereka nikotin memungkinan pencegahan terhadap infeksi virus corona. Namun racun lain yang ada dalam rokok berpotensi memperparah gejala pada pasien. Studi yang dipublikasikan dalam platform jurnal online Qeios itu, diterbitkan 21 April 2020.

Dalam penelitian itu menyebut Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière di Paris yang menguji penelitian itu menyimpulkan bahwa salah satu kandungan pada rokok yang diperkirakan adalah nikotin, diduga membuat perokok lebih sulit tertular virus corona.

Para ilmuwan juga telah mewawancarai 480 pasien virus corona, 350 pasien di antaranya dirawat di rumah sakit, sementara sisanya mengalami gejala ringan dan diizinkan menjalani perawatan di rumah.

Mereka yang menjadi responden di rumah sakit itu berusia rata-rata 65 tahun, 4,4 persen di antara mereka rutin merokok. Sementara yang tidak dirawat di rumah sakit berusia rata-ratanya 44 tahun dan 5,5 mereka merokok.

Para peneliti juga membandingkan data jumlah perokok di Prancis. Di antara pasien yang diwawancarai tersebut jauh lebih kecil, karena sekitar 40 persen dari orang berusia 44-53 tahun di Prancis merokok, sementara di kelompok usia 65-75 tahun sekitar 8,8 persen – 11,3 persen merokok.

Seorang pakar neurobiologi Prancis , Jean-Pierre Changeux, yang telah mengkaji ulang penelitian itu, menduga bahwa nikotin adalah zat yang berhasil mencegah virus corona mencapai sel-sel pada tubuh manusia.

Menurut Changeux, nikotin diduga telah mencegah sistem imun tubuh untuk bereaksi berlebihan, sebuah gejala yang biasa ditemukan pada pasien yang dirawat dalam kondisi sangat parah.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan Cina menyebut perokok jauh lebih kecil berisiko terinfeksi parah karena virus corona.

Penelitian yang diterbitkan akhir Maret lalu di jurnal New England Journal of Medicine itu menyebut 1000 orang yang terinfeksi Covid-19, hanya 12,6 persen yang merokok. Sementara jumlah perokok di China diperkirakan sekitar 28 persen dari total penduduk.

Sementara di Prancis, dari 11.000 pasien yang dirawat di rumah sakit, hanya 8,5 persen yang merokok. Jumlah perokok di Prancis diperkirakan sekitar 25,4 persen dari total populasi.

“Studi cross-sectional kami dengan yakin menunjukkan bahwa mereka yang merokok setiap hari, jauh lebih kecil risikonya mengalami infeksi parah karena terjangkit Covid-19 ketimbang populasi umum,” katanya.

#