Ilustrasi pandemi virus corona. Foto: pixabay

Tiga wartawan asal Cina dilaporkan hilang sejak melaporkan merebaknya kasus penyebaran COVID-19 di Wuhan. Hingga kini mereka hilang belum ada satu petunjuk yang menjelaskan tentang keberadaan mereka.

Dilansir dari Daily Mail, Kamis, 16 April 2020, sebelum menghilang ketiganya membuat laporan terkait kondisi dan situasi wabah virus corona di Wuhan.

Satu diantara mereka bernama Chen Quishi yang keberadaannya tidak diketahui sejak 6 Februari 2020. Sebelum hilang, Quishi masuk ke Wuhan, pusat penyebaran awal Covid 19, untuk merekam dan melaporkan situasi sebelm lockdown diberlakukan.

Quishi merekam video situasi kawasan tersebut dan menunjukkan banyakanya pasien yang tidak tertangani di Wuhan. Bahkan salah satu video Quishi yang sempat viral terkait kapasitsa rumah sakit yang tidak mencukupi untuk menangani pasien virus corona.

Bahkan, dalam rekamannya itu dia melaporkan ada pasien yang meninggal di kursi roda tanpa penanganan.

Keluarga Quishi hingga kini masih mencari keberadaannya. Selain itu, pihak keluarga memanfaatkan media sosial untuk mendapatkan bantuan. Bahkan, orang tua Quishi membuat video yang meminta anaknya untuk kembali.

“Bisakah kalian memberi tahu kami di mana dan bagaimana kondisi Quishi sekarang? Mungkinkah kami bisa bertemu dan berbicara dengannya lagi? Chen Quishi hilang kontak selama 68 hari sejak melaporkan kondisi virus corona di Wuhan. Tolonglah dia,” ujar akun Twitter Quishi yang dipegang oleh kerabatnya.

Berselang tiga hari sesudah Quishi, Fang Bin juga menghilang. Dia membuat laporan video terkait kondisi jenazah pasien virus corona. Bahkan video Fang Bin sempat viral karena melaporkan jenazah-jenazah akibat virus corona ditumpuk di dalam bus.

Laporan Daily Mail menyatakan, Fang Bin merekan situasi tersebut dalam video berdurais 75 detik. Delapan mayat ditumpuk di atas satu sama lain di dalam bus.

Fang Bin mengklaim melihat lebih banyak mayat ketika memasuki rumah sakit, termasuk satu mayat berbaring di bangsal sebelah pasien sakit lainnya.

Rekaman lainnya, dia melaporkan, petugas medis sedang berusaha mengobati penderita pasien corona sambil mengenakan jas hazmat dan mengerang kesakitan.

Selain itu, Li Zehua juga hilang sejak 26 Februari. Zehua adalah jurnalis termuda dari keduanya. Zenghua adalah jurnalis stasiun televisi milik pemerintah Cina, CCTV.

Zehua melaporkan kondisi pandemi di lokasi-lokasi sensitive, di antaranya tempat kremasi hingga Institusi Virologi Cina. Dia diduga hilang akibat laporan tentang situasi di Institusi Virologi tersebut.

Berkali-kali pemerintah Cina membantah bahwa virus corona tidak diciptakan di laboratorium tersebut. Bahkan yang terbaru, Kementerian Luar Negeri China, Kamis, 16 April 2020, mengatakan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan tidak ada bukti bahwa virus tersebut diciptakan di laboratorium.

Juru bicara Kemenlu China, Zhao Lijian, mengatakan hal itu guna menjawab pertanyaan wartawan terkait tudingan bahwa virus corona diciptakan di laboratorium di kota Wuhan, Cina.

Para ilmuwan, termasuk WHO, selalu menegaskan bahwa Sars-Cov-2, nama virus corona yang memicu wabah Covid-19 di dunia, bukan hasil rekayasa. Sejauh ini para ilmuwan sepakat, virus itu berasal dari kelelawar.

Sejauh ini pula para ilmuwan belum bisa memastikan tempat yang menjadi asal-muasal virus tersebut, tetapi mereka sepakat bahwa pertama kali virus itu terdeteksi menulari manusia adalah di Wuhan pada akhir 2019 kemarin.

#