Ilustrasi teori konspirasi virus Corona. Foto: Pixabay

Munculnya pademi Virus Corona (Covid 19) yang menyebar ke berbagai penjuru dunia memunculkan sejumlah teori di kalangan internasional. Banyak pihak yang menyebut bahwa kemunculan virus tersebut sengaja dibuat. Ada pula yang menyebut bahwa kemunculan virus itu merupakan awal dari babak baru perang dunia.

Dua negara yakni Amerika Serikat dan China kini tengah menjadi sorotan dunia terkait kemunculan virus tersebut. Banyak pihak yang menyatakan bahwa Cina dan Amerika Serikat berada di balik asal-usul pandemi Virus Corona.

Bulan Desember merupakan awal dari wabah yang kini tengah menyasar sejumlah negara di dunia. Sejumlah asumsi muncul yang menyatakan bahwa virus tersebut berasal dari sebuah pasar di Wuhan, China.

Wuhan menjadi tempat asal virus tersebut di mana kasus COVID-19 pertama dilaporkan. Asumsi kemudian meluas setelah virus tersebut menyebar secara ke sejumlah negara, laboratorium kesehatan masyarakat di Wuhan kemudian menjadi perhatian.

Terdapat dua laboratorium di Wuhan yang tengah melakukan penelitian jangka panjang dengan memanfaatkan virus kelelawar untuk membantu para ilmuwan guna mengidentifikasi Virus Corona. Laboratorium yang bersertifikasi BSL-4, level tertinggi untuk penanganan patogen berbahaya, dibuka tiga tahun lalu.

Informasi terkait pengumpulan virus dari kelelawar itu pertama kali muncul ke publik pada minggu pertama wabah itu menyebar. Dikutip dari Aljazeera, Shi Zhengli, ilmuwan terkemuka di Institut Virologi Wuhan, membantah tuduhan bahwa virus tersebut muncul akibat kebocoran di laboratorium.

Namun informasi itu segera dibantah Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesu yang menyebut spekulasi itu sebagai berita palsu. Bahkan sejumlah pihak menyebutkan klaim rekayasa virus itu sesuatu hal yang mustahil.

Penelitian tentang virus yang berasal dari kelelawar dimulai setelah epidemi virus SARS mereda pada 2003. Wabah itu berasal dari provinsi selatan Guangdong sebagai wabah mematikan di beberapa bagian Asia.

Akibat viru situ, lebih dari 8.000 orang yang terinfeksi, sementara 84 persen dari kasus itu terjadi dengan fatal di China. Ilmuwan China menyumpilkan bahwa virus itu dibawa oleh kelelawar dan menginfeksi musang.

Selama 10 tahun terakhir ahli viru di Wuhan melakukan banyak ekspedisi untuk mengumpulkan virus dari berbagai spesies kelelawar dan membangun bank virus terbesar di Asia.

“Melalui penelitian mereka pada kelelawar, mereka telah menemukan keragaman besar virus mirip SARS pada kelelawar dan menandai beberapa dari virus ini yang mungkin berdampak pada kesehatan manusia,” kata Leo Poon, seorang ahli virologi di Universitas Hong Kong yang ikut menulis makalah itu pada 2010.

Perang Ekonomi AS-China

Baru-baru ini teori lain mencuat ke publik terkait perseteruan ekonomi antara AS-China. Bahkan pihak AS menuduh Rusia telah melancarkan sejumlah konspirasi yang tidak berdasar terkait penyebaran virus Corona.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, Philip Reeker, dikutip dari BBC mengatakan bahwa Rusi telah menyebar fitnah yang menyebut bahwa virus itu adalah upaya untuk mengobarkan “perang ekonomi terhadap China”.

“Dengan menyebarkan disinformasi tentang coronavirus, Rusia sekali lagi memilih untuk mengancam keselamatan publik dengan mengalihkan perhatian dari respons kesehatan global,” kata Phillip Reeker.

Bahkan sejumlah informasi juga menyebut salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates, terlibat dalam wabah tersebut. Tak hanya itum Rusia melalui sejumlah akun media sosial dan media mainstream melaporkan para elit Barat, terutama AS, yang harus disalahkan.

Bahkan menurut BBC, teori konspirasi juga banyak ditampilkan di acara bincang-bincang politik utama Channel One, sebuat stasiun televisi di negara tersebut.

#