Sekitar 49% tenaga kerja asing di Hong Kong adalah orang Indonesia. Mayoritas tenaga kerjaIndonesia disini berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Dan menurut regulasi peraturan kerja di Hong Kong, waktu kerja mereka hanya dari Senin sampai Sabtu. Nah inilah mengapa pada hari Minggu biasanya di lokasi-lokasi tertentu, para TKI akan memadati area tersebut untuk berkumpul dan melewati hari libur bersama teman-teman mereka. Beberapa tempat yang selama bertahun-tahun telah menjadi tempat nongkrong mereka setiap Minggu adalah Victoria Park di daerah Causeway Bay dan jembatan layang di daerah Central dan Mongkok East. Untuk memberikan anda perspektif, berikut adalah beberapa foto suasana hari Minggu didaerah-daerah tersebut.

Tentu saja dengan banyaknya orang Indonesia disini, dan adanya waktu senggang yang cukup panjang,banyak dari mereka yang tertarik membentuk dan membangun perkumpulan atau organisasi dimana mereka bisa menyalurkan minat dan bakat mereka. Jika anda sedang jalan-jalan di Hong Kong pada hari Minggu di daerah Hong Kong Island, mungkin anda akan bertemu dengan sekelompok TKI yang sedang bermain alat musik, menari, bernyanyi lagu dangdut, atau berkegiatan menarik lainnya.

Jangan heran jika pertunjukan kecil mereka terlihat seakan telah di koreografikan, karena mereka memang menyediakan kelas informal dimana teman-teman yang berminat sama akan berkumpul dan berlatih bersama. Bukan hanya sebatas hiburan, banyak dari mereka juga menggunakan waktu libur mereka untuk kegiatan yang bersifat edukatif dan sosial. Tidak sedikit yang menggunakan hari Minggu untuk belajar dan mengikuti program Universitas Terbuka yang disediakan oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia(KJRI).

Selain itu, mereka juga ada organisasi-organisasi independen yang bersifat sosial dan edukatif. Salah satu organisasi yang paling dominan disini adalah organisasi “Indonesia Migrant Workers Union” dimana para aktivis dapat menyalurkan pendapat mereka tentang isu-isu sosial, serta mengedukasi sesama TKI tentang Hak Asasi Manusia dan regulasi pemerintah atau isu sosial lain yang relevan dengan situasi dan kondisi mereka agar mereka tidak akan di eksploitasi.

Menarik bukan? Namun, sebenarnya ada beberapa pihak yang mengutarakan ketidaknyamanan dan terganggunya mereka akan situasi TKI berkumpul di tempat publik seperti ini. Karena kurangnya fasilitas publik dan area umum yang tersedia di Hong Kong, para TKI terpaksa harus berkumpul di area terbuka di daerah sentral bisnis distrik atau daerah komersial utama di Hong Kong dimana daerah-daerah tersebut merupakan daerah yang paling sibuk dan selalu dipadati orang lokal dan pengunjung dari luar. Ditambah lagi terkadang latihan bermain musik, bernyanyi, menari, atau aktivitas lain para TKI juga dilaksanakan di area umum sehingga mengganggu ketenteraman daerah tersebut. Sebagian besar daerah tempat tinggal TKI juga berlokasi di distrik-distrik tersebut karena dari segi perekonomian, penduduk area komersial biasanya cukup memadai secara finansial sehingga mampu mempekerjakan pembantu rumah tangga.

Meskipun begitu, kegiatan ini sebenarnya telah dilegalkan oleh pemerintah Hong Kong. Tentunya mereka juga diberi hak untuk membentuk asosiasi sendiri dan berkegiatan sesuai keinginan mereka. Salah satu hal yang paling penting dari kegiatan berkumpul seperti ini juga adalah untuk memberi dan membangun rasa solidaritas dan komunitas untuk mereka yang sudah terpisah dengan keluarga dan teman di Indonesia. Kegiatansosial, edukatif, dan hiburan tersebut pun adalah salah satu bentuk aktualisasi diri mereka. Setidaknya, di tengah-tengah kesibukan rutinitas sehari-hari dan kehidupan asing jauh dari kampung halaman mereka, akan selalu ada hari Minggu yang ditunggu-tunggu.

Pertanyaannya, apakah seharusnya pemerintah Hong Kong menyediakan alternatif tempat berkumpul lain di daerah yang lebih sepi agar suasana hari Minggu di daerah yang sibuk menjadi lebih tentram dan nyaman?

#