melawan virus Corona. Foto: Pixabay

Negara-negara di seluruh dunia saat ini tengah berjuang untuk menghentikan penyebaran pandemi virus Corona yang menyebar secara masif ke berbagai belahan dunia.

Hingga tanggal 5 April 2020, lebih dari 68.000 orang di seluruh dunia meninggal karena COVID-19, penyakit pernapasan yang sangat menular yang disebabkan oleh virus Corona. Bahkan data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University, jumlah orang yang dites positif COVID-19 telah melebihi 1,2 juta.

Apa itu Virus Corona?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus Corona merupakan keluarga virus yang menyebabkan penyakit, mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti sindrom pernafasan akut (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).

Awalnya virus ini ditularkan dari hewan ke manusia seperti SARS yang ditransmisikan dari hewan luwak ke manusia, sementara MERS berpindah ke manusia dari salah satu jenis hewan unta.

Beberapa jenis virus Corona yang dikenal, beredar di antara hewan yang belum menginfeksi manusia. Nama Corona yang berarti mahkota, karena bentuknya seperti mahkota yang dikelilingi oleh Corona matahari.

Virus jenis baru ini tercatat dimulai dari Cina pada 7 Januari. Sejak saat ini diberi nama SARS-CoV-2. Virus tersebut merupakan jenis baru yang sebelumnya tidak diidentifikasi pada manusia.

Gejala Penyakit Akibat Virus Corona

Menurut laporan WHO, tanda-tanda seseorang terinfeksi termasuk demam, batuk, sesak napas dan kesulitan bernafas. Dalam kasus yang lebih parah, itu dapat menyebabkan pneumonia, kegagalan banyak organ hingga kematian.

Perkiraan masa inkubasi dimulai dari infeksi dan timbulnya gejala berkisar antara satu hingga 14 hari. Kebanyakan orang yang terinfeksi menunjukkan gejala dalam lima hingga enam hari.

Namun, ada pula pasien yang terinfeksi tanpa menunjukkan gejala, artinya mereka tidak menunjukkan gejala apa pun walaupun sudah ada virus dalam tubuh mereka.

Seberapa mematikan?

Jumlah kematian akibat Virur Corona tersebut telah melampaui jumlah korban wabah SARS 2002-2003, yang juga berasal dari Cina. SARS membunuh sekitar 9 persen dari mereka yang terinfeksi – hampir 800 orang di seluruh dunia dan lebih dari 300 di China saja. Sementara MERS yang tidak menyebar luas dinilai lebih mematikan karena membunuh sepertiga dari mereka yang terinfeksi.

Untuk Virus Corona (Covid 19) baru lebih tersebar luas daripada SARS dalam hal jumlah kasus. Sementara tingkat kematian jauh lebih rendah yakni sekitar 3,4 persen, menurut WHO.

Melawan Virus Corona

Para ilmuwan di seluruh dunia kini tengah berlomba-lomba untuk mengembangkan vaksin. Namun mereka telah memperingatkan bahwa vaksin tersebut akan tersedia untuk distribusi massal sebelum tahun 2021.

Sebagian besar negara telah memperkenalkan usaha untuk memperlambat penyebaran virus. Salah satunya adalah dengan melakukan lockdown, melarang masyarakat, penutupan sekolah, restoran, klub olahraga, dan mewajibkan pekerja bekerja dari rumah.

Selain itu, maskapai penerbangan internasional juga telah membatalkan penerbangan di seluruh dunia. Beberapa negara telah melarang pendatang untuk memasuki wilayah suatu negara. Bahkan beberapa negara juga telah mengevakuasi warganya dari luar negeri.

Apakah perokok lebih berisiko terinveksi?

Badan Pengawas penyakit uni Eropa telah memperingatkan bahwa merokok dapat membuat orang lebih rentan terhadap komplikasi serius dari infeksi virus Corona. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC) memasukkan perokok sebagai orang yang berpotensi paling rentan terhadap COVID-19.

Selain itu, perokok juga lebih rentan terhadap komplikasi pernafasan yang disebabkan oleh penyakit ini. ECDC menyarankan untuk mengidentifikasi perokok sebagai kelompok rentan yang potensial.

ECDC juga mengutip sebuah penelitian di China yang menyebutkan bahwa 99 pasien yang terkena virus corona merupakan perokok akut lebih berisiko meninggal daripada orang tua.

Laporan ECDC juga mengatakan, sebuah studi yang dilakukan oleh Guoshuai Cai, dari University of South Carolina menyebut bagi perokok terjadi aktivitas tinggi di paru-paru enzim, ACE2, yang dapat membuat pasien lebih rentan terhadap COVID-19. (Sumber: Aljazeera)

#